Home » BERITA » Simpatisan Abusyik Serbu KIP Pidie, Ratusan Polisi Pagar Betis

Simpatisan Abusyik Serbu KIP Pidie, Ratusan Polisi Pagar Betis

88

Sekitar Puluhan Simpatisan Abusyik Serbu KIP Pidie dan dipagar betis oleh ratusan personil Polres Pidie, Kamis (09/02/2017) sekira pukul 14.30 Wib sore kemarin

Tribratanewspolrespidie ; Massa simpatisan pasangan cabup – cawabup Pidie nomor urut 2, Roni Ahmad (Abusyik) dan Fadlullah, mendatangi Kantor Komisi Indenpenden Pemilihan (KIP) Pidie, Kamis (9/2). Mereka ngotot bertemu komisioner KIP untuk mempertanyakan status kopiah merah serta penyebab tidak ditayangkannya gambar pasangan Abusyik dalam sisa iklan di media massa. Mereka juga mempersoalkan keputusan KIP yang tidak memperbolehkan jagoan mereka mengikuti debat kandidat yang akan berlangsung besok pagi di hotel grabd blang asan sigli.

Namun, keinginan massa Abusyik untuk bertemu dengan komisioner KIP dihadang oleh petugas kepolisian yang melakukan pagar betis di lorong masuk lembaga tersebut. Beberapa wanita (polwan) turut dilibatkan untuk menghadang massa.

Akhirnya, massa yang mengusung karton berorasi secara bergantian di depan ratusan personil Polres Pidie. Saat orasi berlangsung, seseorang dari arah massa berusaha menerobos pagar betis polisi berpakain dinas lengkap dengan menggunakan tameng, menyusul komisioner KIP yang tidak keluar menjumpai massa.

Nyaris terjadi bentrokan antara massa dengan petugas kepolisian, namun polisi bertindak sigap dan tidak memberikan ruang kepada massa untuk masuk menerobos ke Kantor KIP Pidie.

Salah satu peserta aksi, Muttaqin dalam orasinya meminta komisioner KIP keluar bertemu massa untuk menjelaskan tentang kopiah merah. Karena KIP menganggap kopiah merah sebagai alat peraga kampanye (APK). sehingga cabup dan cawabup Roni Ahmad – Fadhullah tidak boleh mengikuti debat. KIP memberikan sanksi tidak ditanyangkan dalam iklan di media.

” Kapan kami difatrakan kopiah merah sebagai APK ?, tolong komisioner KIP jelaskan. KIP jangan takut kepada massa, kami ingin keadilan dari penyelenggara pemilu. KIP tidak adil, ” teriak Muttaqin disambut gemuruh massa yang tertahan pagar betis polisi.