Home » BERITA » Kapolres Pidie Hadiri Acara Peringatan 15 Tahun Tsunami 2019 di Gedung PCC Kab. Pidie

Kapolres Pidie Hadiri Acara Peringatan 15 Tahun Tsunami 2019 di Gedung PCC Kab. Pidie

Tribratanewspolrespidie.com |

Pada hari Kamis 26 Desember 2019 sekitar pukul 08.00 Wib, bertempat di Pidie Convention Center (PCC) Gp. Lampeudeu Baroh Kec. Pidie Kab. Pidie Kapolres Pidie AKBP Andy Nugraha Siregar S.I.K menghadiri acara Peringatan 15 Tahun gempa dan Tsunami Aceh Tahun 2019 dengan tema ” Melawan Lupa, Membangun siaga”, dengan jumlah pengunjungnya sekitar LK 3000 orang.

Dengan adanya acara Peringatan 15 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh tahun 2019 yang dihadiri oleh tamu-tamu dari luar Negeri yaitu Mr. Kim Chang Beong, Dubes Korsel dan 3 Staf, Mr. Takeshi Ishi, Konjen Jepang,  Mr. Yamamori, Vice Konjen Jepang, Mr. Raghu Gururaj, Konjen India, Mr. Matthew Chan, Sekretaris I Politik, Kedubes Singapura, Ms. Qiu Weiwei, Konjen China, Mr. Xu Qiyi, Konsul China, Ms. Guo Jingfei, Konsul Atase, Prof. Yamamoto Hiroyuki, Kyoto University, Prof. Nishi Yoshimi, Kyoto University, Mr. Yamamoto Koji, Kyoto University, Mr. Yamamoto Katsuhide, Kyoto University, Prof. Toshihisa Toyoda, Kobe University, Prof. Yuka Kaneko, Kobe University, Prof. Akihiko Hokuga, Kobe University, Prof. Shiro Kawashima, Kobe University, Prof Isao Hayasi, Museum Nasional Jepang, Kepala BNPB Indonesia an.  Letjen TNI Doni Marnado, Anggota DPRI an. H. Illiza Sa’adudin Djamal SE., Ustadz Syauki Zainuddin MZ, Plt Gubernur Aceh an. Ir. H. Iriansyah, MT, Ketua DPRA  an Dahlan Jamaluddin Sip, Kasdam IM Brigjen TNI an. Achmad Daniel Chardin, Wakil Ketua 1 DPRA Aceh an. Dalimi SE. AK, Kadis Budpar Aceh an. Jamaluddin, SE, Msi Ak, Mewakili Kabinda Aceh Kombes Pol Armujito.

Para Anggota DPRA asal Pidie, Bupati Pidie an. Roni Ahmad, SE, Wakil Bupati Pidie an. Fadlullah TM Daud, Asisten I Bidang Pemerintahan an. Bahrul Walidin SH Msi., Dandim 0102 Pidie an. Letkol Arm Wagino SE, Kapolres Pidie an. AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar, S.I.K.,  Kapolres Pidie Jaya an. AKBP Musbagh Ni’am S.ag, Waka Polres Pidie Kompol Iskandar, A. SE, AK, Kabagops Polres Pidie Kompol Syahral Handani Ketua DPRK Pidie an. Mahfud Ismail, S.Pdi, M,AP, Kadis Syariat Islam Pidie an. H. T. Sabirin SH. MH, Kadispora Kab. Pidie an. Apriadi, S.Sos, Kadis Sosial Pidie an. Drs Muslim Yusuf, Kadis Badan Dayah Kab. Pidie an. Drs. Khirizzaman,Kaban Kesbangpol Pidie an. Drs Zulkifli, Mantan Kombatan Eks GAM Aceh an. Zakaria Saman, Para Anggota DPRK Pidie, Sekda Kab. Pidie an. H. Idhami S.sos Msi, Ketua MPU Pidie an. Abu Ismi Ilot, Para Skpk Kab. Pidie, Para Camat se-Kab. Pidie, Para Ulama dr Kab. Pidie, Para Tokoh Masyarakat Pidie, Para Camat Seluruh Kab. Pidie serta para PJU jajaran Polres Pidie.

Dengan agenda kegiatan tersebut Sambutan dari Bupati Kab. Pidie Roni Ahmad, SE. yaitu Hadirin dan Tamu Undangan yang Berbahagia, Mengawali sambutan singkat ini, izinkanlah kami atas nama Pemerintah dan Seluruh Masyarakat Kabupaten Pidie menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Aceh, yang telah memberikan kesempatan kepada kami, Kabupaten Pidie, sebagai tempat Penyelenggaraan Acara Puncak Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh. Alhamdulillah, kita baru saja menggelar Zikir dan dalam rangka Do’a Bersama mengenang Para Syuhada Korban Tsunami Aceh 15 tahun silam, persisnya pada tanggal 26 Desember 2004. Mudah-mudahan Arwah Para Syuhada diterima korban Tsunami Aceh diterima disisi Allah SWT. Aamin Ya Rabbal A’lamin.

Dunia mengakui bahwa Gempa Bumi dan Tsunami Aceh merupakan tragedi yang paling memilukan dalam sejarah peradaban manusia, Musibah Tsunami Aceh adalah bencana alam terbesar. Peristiwa Tsunami Aceh juga telah membuka mata dunia. Aceh berduka, yang kemudian mendorong Pemerintah Republik Indonesia dan Para Petinggi GAM menuju ke meja perundingan di Kota Helsinki, Finlandia. Selanjutnya lahirlah Perdamaian Aceh. Aceh Damai sekaligus mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung hampir 30 tahun di Bumi Serambi Mekkah. Karena itu pula, marilah kita jadikan momentum Puncak Peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh sebagai ikhtiar kita untuk evaluasi diri, dan bangkit dari segala keterpurukan.

Kita tidak boleh larut dalam kesedihan, tanpa mempersiapkan diri menuju masa depan yang lebih baik, Masa lalu adalah cermin. Masa depan adalah harapan. Kami juga mengajak masyarakat Aceh agar hendaknya dapat menahan diri dari segala perbuatan merusak hutan dan ekosistem di dalamnya. Semua yang kita lakukan untuk alam semesta adalah sebuah perjuangan untuk hidup kita semua. Demikian sambutan singkat yang dapat saya sampaikan. Selanjutnya, mari sama- sama kita ikuti dan mendengarkan sambutan dari Plt Gubernur Aceh, Bapak Ir. Nova Iriansyah. Dan juga Tausiyah yang nantinya akan disampaikan oleh Penceramah kita, Ustadz  Syauqi Zainuddin MZ. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Taufik dan Perlindungan-Nya kepada kita semua. Amin ya rabbal a’lamin.

Kata sambutan oleh Kepala BNPB Indonesia an.  Letjen TNI Doni Marnado yaitu  Terima kasih kepada Bapak Gubernur yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk memberikan sambutan pertama kali ingin menyampaikan suatu imbalan kepada kita semua untuk kita bisa berdoa kepada korban pada tanggal 26 Desember 2004 15 tahun yang lalu semoga seluruh bapak-bapak masyarakat budayawan para akademisi perwakilan dari guru pejabat pemerintah pusat yang ada di ajang dan seluruh pimpinan masyarakat aceh.

Saya ingin menyampaikan kepada kita semua untuk bisa berdoa kepada korban pada tanggal 26 desember 2004 sebagai respon kita semua kepada Masyarakat Aceh, semoga seluruh korban mendapatkan tempat yg layak disisinya.  Kita semuanya bangsa Indonesia patut menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak,  baik dari dalam maupun luar negeri, TNI/Polri, badan Sar, relawan, dan juga seluruh elemen yg telah membantu masyarakat yg terkena Musibah di Indonesia.

Kita Juga berterima Kasih kepada negara-negara sahabat yang telah memberikan bantuan dukungan mulai dari minggu pertama sampai dengan pembangunan Aceh Lebih baik kembali semoga bantuan bantuan dari negara sahabat bisa memberikan hubungan yang lebih baik kepada kita semuanya. Kita semua Perlu persiapan atau langkah untuk menghadapi Musibah kapan pun terjadi, hal ini sangat penting karena bukan hanya untuk masyarakat Aceh tetapi untuk seluruh bangsa Indonesia karena kita berada pada posisi Ring of Fire kita memiliki 500 gunung api kita memiliki lebih dari 295 patahan dan kita memiliki pertemuan lempeng indo-australia, Eurasia dan Pasifik yang tentunya setiap saat akan bisa menimbulkan gempa Tsunami dan letusan gunung berapi.

Sebagaimana yang selalu disampaikan bapak presiden jokowi bahwa upaya pencegahan haruslah menjadi yg paling utama di perhatikan hari ini oleh karenanya refleksi kita kali ini adalah kita tidak boleh lupa bahwa mendapatkan sebuah hasil riset yang sangat penting yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Aceh bersama dengan universitas Syiah Kuala dan Nanyang University yang membuktikan bahwa telah terjadi belasan kali gempa dan tsunami yang melanda Aceh dan gua yang berada di Kabupaten Aceh Besar Kecamatan lueng ada sebuah tempat terbaik pencatat sejarah tsunami aceh.

Karena dari sinilah kita semua menyadari betapa pentingnya hasil riset betapa pentingnya hal-hal yang berhubungan dengan penelitian sehingga kita tahu bahwa peristiwa tanggal 26 Desember 2004 yang lalu bukanlah yang pertama terjadi tetapi telah pernah terjadi pada 7500 tahun 5400 tahun 3300 tahun 2800 tahun dan ratusan ratusan tahun sebelumnya sampai akhirnya pada tanggal 26 Desember 2004 hasil penelitian ini membuat kita semakin yakin bahwa yang menjadi daerah rawan bencana bukan hanya di aceh tetapi di hampir sebagian besar wilayah pantai barat.

Tidak ada lagi Alasan kita untuk tidak mempersiapkan diri ,tidak boleh lagi ada kata-kata yang mengatakan oh nanti biar saja itu urusan generasi yang akan datang kalau kita ingin menyelamatkan jiwa dan raga untuk membangun bangsa kita maka hari ini kita menyusun segala hal yang berhubungan untuk menyelamatkan jiwa manusia di kemudian hari .

Salah satu kaidah Global salus populi suprema Lex keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi sebagaimana juga yang tertuang dalam pembukaan undang-undang Dasar 1945 negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Selanjutnya kata-kata Sambutan dari Gubernur Aceh Ir. Nova Iriansyah, MT. yaitu Pertama-tama puji syukur senantiasa kita persembahkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul di sini, menghadiri puncak peringatan ‘15 Tahun Tsunami Aceh’.

Shalawat dan salam kita sanjungkan ke pangkuan Rasulullah, Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat Beliau sekalian, yang telah mewarisi nilai-nilai moral kepada kita semua, serta ajaran kepemimpinan dan dinul Islam.

Memulai sambutan ini, perkenankan saya atas namaPemerintah Aceh menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas kesediaan Bapak/lbu sekalian untuk menghadiri peringatan 15 Tahun Tsunami Aceh di Pidie Convention Center, salah satu lokasi kejadian Tsunami 26 Desember 2004 silam.

Terima kasih juga kepada seluruh masyarakat Aceh yang turut memperingati 15 Tahun Tsunami Aceh, di tempat masing-masing dengan tafakkur, tasyakkur dan doa bersama. Semoga seluruh rangkaian kegiatan hari ini, dapat berjalan lancar, aman, tertib, dan sukses.

Bencana Tsunami yang melanda Aceh 15 tahun lalu, telah mengajarkan ki ta banyak hal. Peristiwa itu meninggalkan duka, trauma, kehilangan, kepedihan dan keterpurukan. Lengkap semua penderitaan kita pada saat itu, ditambah kondisi konflik Aceh yang belum berakhir.

Dunia bahkan mengakui Tsunami Aceh sebagai bencana terparah sepanjang abad ke-21. Bencana itu tidak hanya memporak-porandakan Aceh, tapi juga berdampak hingga ke negara lain, seperti Thailand, India, Sri Langka dan sebagian wilayah Asia lainnya. Korban yang meninggal lebih dari 200 ribu jiwa, menyebabkan lebih setengah juta warga Aceh terpaksa tinggal di tenda-tenda dan barak pengungsian, sampai beberapa tahun setelahnya.

Peristiwa Tsunami juga telah memberi banyak pelajaran bagi kita semua. Kita menjadi lebih tahu bagaimana saling membantu dan berbagi, bangkit membangun, saling menghargai, menguatkan solidaritas, memperkaya
pengetahuan, bahkan membuat kita lebih tabah dan beriman.

Penting sebagai renungan bersama, Allah SWT bukan sedang menyiksa hambanya kala menurunkan bencana. Allah SWT sedang menguji kita sesuai batas, sebagaimana firmannya dalam surat Al Baqarah ayat 286, yang artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”
Dan Allah menampakkan rahasia setelah bencana itu.

Konflik Aceh berakhir delapan bulan setelah tsunami dengan hadirnya perdamaian Aceh, pada 15 Agustus 2005, yang disepakati Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) lewa t sebuah perundingan yang bermartabat di Helsinki, Finlandia. Tonggak bersejarah itu dikenal sebagai MoU Helsinki.

Setelahnya, Aceh terus bangkit membangun lebih baik lagi untuk cita-cita kesejahteraan seluruh masyarakat. Inilah salah satu bukti dari janji Allah sebagaimana Firman-Nya dalam surat Al Insyirah ayat 5-6 yang artinya: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.  Allah mengulang kalimat itu dua kali secara berurutan. Tidak sedikit keraguan bagi kita umat Islam terhadap Firman-Nya.

Tujuan kita memperingati 15 Tahun Tsunami bukanlah untuk membuka kembali kesedihan dan luka lama, melainkan untuk membangkitkan semangat kita guna menjadikan bencana itu sebagai momentum meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.

Sekaligus menyadarkan kita agar peduli dengan pelestarian lingkungan dan selalu waspada terhadap segala jenis bencana, sesuai dengan tema peringatan tsunami kali ini, ‘Melawan Lupa, Siaga Bencana’. Aceh dan sejumlah wilayah lain di Indonesia terletak di kawasan yang rawan bencana.

Hal ini dikarenakan letak geografis Indonesia merupakan titik bertemunya tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Lempeng ini kerap bergeser menumbuk lempeng lainnya sehingga berdampak pada terjadinya gempa bumi, bahkan berpotensi berulangnya tsunami. Ini bahkan tercatat sejak lama, dalam sebuah penelitian jejak tsunami purba di Gua Ek Leuntie, Lhoong, Aceh Besar.

Ada berbagai bencana lain juga mengancam Aceh dan sering terjadi, seperti kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang, ban jir genangan, tanah longsor, akibat perambahan hutan, maupun kelalaian kita dalam menjaga alam dan lingkungan. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), dalam tahun ini sampai November 2019, telah terjadi sebanyak 754 kali bencana di Aceh, terbanyak kebakaran hutan dan lahan, serta banjir. Ini bukan jumlah yang sedikit, dan seharusnya dapat dicegah. Karenanya, pada kesempatan ini saya mengajak kita semua agar hendaknya dapat menahan diri dari segala perbuatan merusak alam dan lingkungannya. Mari kita jadikan momentum peringatan tsunami ini untuk melahirkan perilaku yang positif, sekaligus menciptakan berbagai perubahan dalam diri kita agar lebih kreatif dalam membangun Aceh yang lebih baik di masa depan.

Bencana alam memang rahasia Allah SWT. Kita tidak memiliki kapasitas untuk memprediksi kapan, di mana dan bagaimana bencana itu datang dan menghadang kita. Meski demikian, ancaman bencana itu jangan membuat kita takut dan trauma. Kita harus terus belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman menghadapi setiap ancaman bencana.

Meningkatkan pengetahuan di bidang kebencanaan menjadi salah satu bagian yang tercantum dalam Visi Misi ‘Aceh Hebat’ Periode 2017-2022. Secara spesifik, tercantum dalam program unggulan ‘Aceh Green’ yang memuat beberapa poin di antaranya; Melakukan langkah-langkah strategis.

Karenanya, kita terus menghimbau agar masyarakat dan pihak terkait di seluruh Aceh untuk membentuk komunitas-komunitas peduli bencana. Komunitas ini diharapkan bisa berperan mensosialisasikan teknik-teknik penanggulangan bencana, sehingga program mitigasi bencana dapat tersebar di tengah-tengah masyarakat kita. Bangkitnya Aceh pasca tsunami, tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam rekontruksi dan rehabilitasi, membangun kembali Aceh lebih baik.

Melibatkan masyarakat di seluruh Indonesia dan dunia, negara sahabat, lembaga donor, kalangan NGO yang bahu- membahu atas dasar kemanusiaan menggalang solidaritas, pada sebuah tujuan bahwa Aceh harus bangkit. Karenanya pada kesempatan ini, atas nama Rakyat dan Pemerintah Aceh, kami kembali mengucapkan terimakasih kepada para negara sahabat, lembaga donor, kalangan NGO, dan juga Pemerintah Indonesia yang begitu tulus membantu pembangunan Aceh pasca bencana yang lalu.

Semoga dukungan dan solidaritas global itu terus menjadi kekuatan untuk membangun Aceh kembali, “Aceh Redevelopment” dengan tagline popular saat itu “Let’s Build Aceh Back Better” dan “No Peace Without Reconstruction, No Reconstruction Without Peace”.

Kami berharap melalui semangat peringatan ini, mari kita semua untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana, meningkatan keikhlasan, mempertegas komitmen, menjaga perdamaian dan memperkuat solidaritas, kekompakan, dan keberagaman, untuk membangun Aceh lebih baik. Hadirin yang berbahagia, Demikian sambutan saya pada kesempatan berharga ini.

Akhirnya, sama-sama kita memohon kepada Allah SWT,
semoga senantiasa menjauhkan kita dari segala bentuk bencana, serta melimpahkan Rahmat dan Ridha-Nya kepada kita semua. Amin Ya Rabbal’alamin. Wabillahittaufiq walhidayah Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Acara selanjutnya Tausiyah & Doa Bersama oleh Ust Syauqi Zainuddin MZ, antara lain:  Kerusakan didarat dan dilaut yang terjadi selama ini karena perbuatan tangan manusia sehingga adanya suatu teguran dari Allah Swt dengan memberikan musibah dengan tujuan masyarakat sendiri tersebut sadar dengan perbuatannya.

Bencana alam memang rahasia Allah SWT, Manusia tidak memiliki kapasitas untuk memprediksi kapan, di mana dan bagaimanabencana itu datang dan menghadang, Meski demikian ancaman bencana itu jangan membuat kita takut dan trauma, Kita harus terus belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman menghadapi setiap ancaman bencana dan terus melakukan hal yang positif/anjuran allah dan meninggalkan setiap larangannya.

Selanjutnya pukul 12.30 wib, untuk Rombongan Plt Guburnur kembali ke Banda Aceh, situasi aman dan lancar. (IN).